
Denpasar - Tirta Sudamala mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Bali saat ini. Pemandian yang ada di Banjar Sedit Kelurahan Bebalang ini kerap dijadikan sebagai tempat malukat oleh masyarakat dari berbagai penjuru daerah. Selain diyakini mampu mengobati segala macam penyakit dan membersihkan aura negatif dalam tubuh, salah satu sumber mata air yang ada juga diyakini mampu memudahkan pasangan suami istri mendapat momongan.
Klian Adat Sedit, Gusti Putu Kariyadnya saat ditemui Minggu kemarin menuturkan, selain memiliki 12 pancuran yang mencirikan Dewata Nawa Sanga, tirta Sudamala juga memiliki beberapa sumber mata air yang menyembul dari dalam tanah atau yang disebut toya kelebutan. Ada dua toya kelebutan yakni di utara dan timur yang bertemu dalam satu titik, air tersebut disebut toya campuhan atau toya penyeseh. Sebagaimana yang dipercaya masyarakat selama ini, toya campuhan atau toya penyeseh ini konon berkhasiat untuk membantu pasangan suami istri untuk mendapat keturunan.
Selain itu, malukat di toya campuhan ini juga dianjurkan untuk wanita yang sedang hamil agar mudah dalam menjalani proses persalinan. "Konon kalau ibu-ibu hamil malukat di sini, akan mudah melahirkannya," ujarnya.
Namun demikian, Kariyadnya mengatakan bahwa tidak semua wanita hamil dibolehkan malukat di sini. Hanya yang usia kehamilannya cukup tua yang boleh malukat. "Kalau yang sednag hamil muda pantang untuk malukat di toya campuhan ini," ujarnya.
Apa yang diungkapkannya tersebut, kata Kariyadnya, didasarkan pada cerita warga yang pernah membuktikan hal tersebut. Dia menuturkan, pernah ada pasangan suami istri dari Ubud Gianyar yang datang untuk malukat di sana. Dulunya mereka mengaku sulit mendapat keturunan. Setelah malukat dan berusaha, pasutri itupun akhirnya dikaruniai keturunan. "Sampai sekarang keduanya sering ke sini untuk malukat," ujarnya.
Biasanya Tirta Sudamala akan ramai dikunjungi warga saat rahinan Purnama/Tilem, serta hari raya besar seperti Banyupinaruh.
Sumber: Koran Bali Post, Senin Pon, 8 Juni 2015