
Warga Desa Pakraman Apit Yeh, Kecamatan Manggis, Karangasem, kembali melaksanakan tradisi masantalan, Selasa (26/5) kemarin. Tradisi ini berlangsung unik. Pasalnya, seluruh pemuda desa setempat saling serang dengan melemparkan ketupat dari arah berlawanan. Tradisi ini dilestarikan untuk menghormati perjalanan sang putri dari Ida Dalem Selumbung saat menikah dengan Ida Dalem Apit Yeh.
Bendesa Apit Yeh, Nengah Sarjana, sebelum pelaksanaan puncak tradisi, mengatakan tradisi ini berlangsung setiap tahun sekali, tepat pada Kajeng Kliwon sasih Sadha. Tradisi ini bermula dari proses meminang sang putri dari Ida Dalem Selumbung oleh Ida Dalem Apit Yeh, di mana saat itu Ida Dalem Selumbung memberi bekal anaknya ketupat. Dalam perjalanan menuju Apit Yeh, bekal ketupat itu kemudian dilempar oleh sang putri kepada warga, kemudian diambil oleh warga Apit Yeh sebagai bentuk penganugerahan amerta dari sang putri. Tradisi ini berlangsung selama sehari. Tahapannya, saat pagi, seekor godel (anak sapi) dilepas warga, kemudian dipecut agar berlari dan dikepung warga. Lalu godel itu mengelilingi desa tiga kali. Hal itu dimaksudkan untuk membersihkan mala di desa. Godel ini pun tidak boleh sem-barangan. Harus jantan dan tidak boleh cacat. Setelah itu, barulah godel itu disembelih untuk caru sesaat sebelum puncak tradisi masantalan. Sementara, sisa bahan yang akan digunakan caru, diolah para pemuda setempat dari empat banjar adat, untuk maprani setelah pelaksanaan tradisi masantalan.
Usai maolahan, pemuda setempat terus memukul kulkul di setiap banjar adat. Antara lain di Banjar Adat Kaleran, Kangin, Kawan dan Kelod bersamaan puncak masantalan. Hal ini untuk membangkitkan semangat para pemuda setempat. Sebelum "perang ketupat" dimulai, seluruh warga Apit Yeh sembahyang di empat pura. Antara lain, di Pura Taman sebagai ulun suwi, Pura Bale Agung, Pura Puseh, dan Penanggun Desa. Nah, di lokasi penanggun desa ini dilaksanakart pacaruan. Usai proses macaru, barulah para pemuda yang sudah siap sejak awal, terlibat saling lempar ketupat dari arah berlawanan. Kedua kelompok hanya dipisahkan dengan dua kayu berjarak sekitar 10 meter sebagai batas masing-masing kelompok melemparkan, ketupat.
Proses ini berlangsung seru dan menegangkan. Sejumlah pemuda harus beberapa kali kena lemparan ketupat dari warga lainnya. Aksi perang ketupat tersebut berlangsung sekitar 15 menit, mulai dari pukul 16.10 sampai pukul 16.25 wita dan menyedot perhatian warga sekitar. Agar tidak memancing keributan, pelaksanaan tradisi ini tetap dikawal para pecalang dengan ketat. Meski warga terlihat begitu bersemangat melemparkan ketupat, setelah itu mereka tidak lagi terlibat dendam. Justru warga yang terlibat perang ketupat, dipersatukan kembali dan tetap menjadi sahabat, melalui proses maprani (makan bersama).
Sumber: Koran Bali Post, Rabu Umanis, 27 Mei 2015