
Bangli - Belakangan ini sejumlah masyarakat kerap meluapkan rasa kegembiraannya dengan kegiatan hura-hura. Tak sedikit pula, tingkah laku ini kerap menimbulkan masalah. Rupanya hal itu tidak terjadi pada masyarakat di Desa Kayubihi Bangli. Kegembiraan dalam hidup ditunjukkan dalam tradisi Perang Taluh, seperti yang terjadi, Rabu (29/7) kemarin.
Bendesa adat setempat, I Wayan Sadia menuturkan tradisi ini merupakan warisan leluhur yang diwariskan secara turun temurun. Pelaksanaannya pun dilakukan pada acara Ngusaba Pausa/Kelod. Nasib tradisi ini sama dengan tradisi Mapeed Ngiring Tangas yang pernah tak terlaksana selama 22 tahun sebagai akibat sebel desa dan pembangunan sejumlah pura di lingkungan desa. "Ini sudah menjadi tradisi desa. Namun, lama tidak terlaksana karena ada sebel desa dan pembangunan beberapa pura. Kali ini baru bisa terlaksana setelah 22 tahun fakum," jelasnya.
Terkait dengan nama tradisi, dijelaskan Sadia, Perang Taluh ini bukan saling lempar dengan telor. Melainkan menggunakan bola yang dibuat dari janur ataupun daun aren yang ukurannya sebesar kepalan tangan anak kecil. Perang Taluh ini merupakan rangkaian dari prosesi Nyunding yang bermakna menunjukkan kegembiraan masyarakat karena telah diberikan kemakmuran. Selain itu, saat aksi saling lempar mulai, masyarakat tidak diperkenankan marah maupun dendam.
"Tradisi ini dimaksudkan untuk mengimplementasikan konsep Tri Kaya Parisudha. Saat saling lempar, peserta tidak boleh berkata kasar, tidak boleh marah, dan juga tidak boleh dendam. Usai acara, hal ini harus tetap diterapkan," tegasnya.
Sebelum aksi saling lempar dimulai, seluruh peserta, yakni Jero Truna dan Desa Pamuit serta Desa Uduhan harus mengikuti persembahyangan di Pura Pausa yang berada di sebelah timur Balai Banjar Kayubihi. Setelah persembahyangan usai, peserta dibagi menjadi dua kubu dan menuju jalan depan Pura Pausa. Saat itulah peserta diberikan taluh dan perang langsung dimulai. Dalam prosesi itu, pertama, Jero Truna dikalahkan dan didesak mundur sampai Pura Sepat Sikut (sebelah utara Pura Pausa). Kedua, krama desa mendesak Sekaa Truna sampai sebelah selatan bale banjar dan keduanya langsung malukat bersama-sama di Pura Pasiraman Pura Dalem Pingit.
Lanjut Sadia, selesai malukat, beberapa peserta perang ini kembali menghias diri dengan memakai gelungan janur dan kampuh. Setelah itu, peserta ini melakukan tradisi ngejot kawisan kepada para janda yang ada di lingkungan desa adat. Uniknya, sebelum kawisan itu diserahkan, peserta ini harus menari.
Sumber: Koran Bali Post, Kamis Kliwon, 30 Juli 2015