
(Foto: Panitia Nasional Nyepi Tahun Baru Saka 1940 foto bersama seusai melaksanakan yoga massal dan penanaman pohon di di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Gunung Salak)
Jakarta – Panitia Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 menyelenggarakan kegiatan penanaman pohon atau penghijauan dan yoga massal di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Gunung Salak, Bogor, Minggu (25/2/2018).
Ketua Umum Panitia Nyepi Nasional Laksda TNI I Nyoman Gede Ariawan, S.E., M.M, dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Ketua Umum Marsma TNI I Nyoman Tri Santosa S.IP, M.Tr (Han) mengatakan, penanaman pohon atau penghijauan dan yoga massal merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka menyambut perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1940 yang jatuh pada tanggal 17 Maret 2018 mendatang.
"Bahwa hari ini kita berkumpul di tempat ini untuk melakukan penanaman pohon atau penghijauan yang merupakan salah satu dari beberapa kegiatan aksi sosial. Kegiatan aksi sosial lain yang akan kita laksanakan lagi adalah Yoga Massal, Penyuluhan Anti Narkoba, Donor Darah, dan Bhakti Sosial Kemanusiaan," ujarnya.
Nyoman Tri Santosa menambahkan, sehari sebelumnya (24 Februari 2018, red) Panitia Nyepi telah melaksanakan kegiatan yang bersifat intelektual-inspirasional yaitu Seminar Nasional di Gedung Kementerian Agama R.I. dengan menghadirkan tokoh nasional sebagai narasumber yaitu Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latief, Ph.D; Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A; dan Rektor Universitas Pertahanan Letjen TNI (Purn) Dr. I Wayan Midhio, M.Phil.
Penghijauan Pengamalan Tri Hita Karana
Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya sangat mengapresiasi kegiatan penanaman pohon yang diselenggarakan Panitia Nyepi. Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud nyata pengamalan ajaran Tri Hita Karana.
"Kita mengajak umat kita untuk kembali mencintai alam dan lingkungannya. Saya katakan tadi pada saat menanam pohon, ingat Tri Hira Karana. Hubungan kita kepada Tuhan yang maha kuasa, hubungan terhadap manusia bermasyarakat, hubungan kita terhadap lingkungan hidup, salah satunya dengan tanam pohon,” ujarnya.
Wisnu Bawa Tenaya menambahkan, aksi penanaman pohon atau penghijauan ini adalah simbol dari poleng (hitam putih) yaitu akarnya pohon ke bawah ketempat gelap dan batangnya tumbuh ke surya ketempat yang terang.
“Poleng berarti juga potensinya lengkap, di bogor ini sangat luar biasa tanah yang subur. Apa yang kita lakukan bersama tadi olahraga agar menjadi kuat, bahasa tentaranya daya tempurnya menjadi kuat. Fisiknya sehat walafiat. Kemudian manuver lari, lompat, loncat, naik turun tangga tidak pernah lelah, karna yoga nya sudah bagus. Berbicaranya beretika, karena ini adalah tempat suci, tempat untuk berbakti kepada Tuhan. Mudah-mudahan dengan cara-cara seperti ini tanaman lingkungan jadi tetap sehat dan subur," pungkasnya.
Kegiatan penanaman pohon yang dilaksanakan Panitia Nyepi Nasional melibatkan berbagai tokoh dan pecinta lingkungan, antara lain Persemaian Permanen Darmaga IPB Bogor, Perhimpunan Cendikiawan Lingkungan Hidup (Perwaku). Sekitar 1.500 lebih bibit pohon yang ditanam dengan berbagai jenis yaitu tanaman keras dan berbuah.
"Kita bekerjasama juga dengan saudara kita yang menyumbangkan pohon, dengan IPB dan lainnya. Mari bergandengan tangan bersatu padu kita membangun negeri. Kita satu saudara, kita hirup udara yang sama, mari kita jaga kerukunan hidup beragama satu dengan yang lain,” ungkap Wisnu Bawa Tenaya.
Sementara itu, perwakilan Perwaku sekaligus Guru Besar UI Ilmu Lingkungan, Prof. Hasrul Tayeb menyambut baik kegiatan penanaman pohon tersebut. Menurutnya, selama ini masyarakat telah salah dalam memandang alam.
“Coba lihat ada tiga hal yang dipegang teguh oleh masyarakat tradisional yaitu jangan sekali-sekali melawan alam, jangan melanggar perintah alam dengan memahami kaidah ekologis serta kepentingan tanpa melawan dan melanggar kaidah ekologis," ujarnya.
Masih kata Hasrul, alam kita adalah hutan, oleh kita dijadikan padang rumput, itu salah satu melawan alam. "Alam kita adalah biodiversitas nomor satu di dunia, tapi sudah banyak lahan dijadikan monokultur (tanaman padi dan jagung) makanya selama ini monokultur tidak banyak menguntungkan," terangnya.
Ketua Yayasan Taman Sari Gunung Salak Drs. Erlangga Mantik, M.A sangat mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada Panitia Nyepi karena telah menjadikan Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Gunung Salak sebagai tempat penanaman pohon dan yoga massal. Erlangga Mantik juga berharap kedepannya lebih banyak lagi kegiatan sosial keumatan yang dapat dilakukan dan segala fasilitas yang ada dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin
Sekitar 200 orang lebih ikut dalam kegiatan yoga massal yang dileading dari perguruan Markandeya Yoga Indonesia. Peserta yang hadir juga dari berbagai lintas agama dari tiga provinsi yaitu Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Banten.

(Foto: Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (ketiga dari kiri memakai topi merah) memberikan pengarahan dalam penanaman pohon atau penghijauan di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Gunung Salak)

(Foto: umat lintas agama mengikuti yoga massal yang dileading dari Markandeya Yoga Indonesia di wantilan Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Gunung Salak)

(Foto: Peserta yoga massal foto bersama seuasi melakukan yoga di wantilan Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Gunung Salak)
Oleh: admin