Para rsi merupakan orang suci sekaligus penyair yang melupakan perasaanya yang begitu emosional melalui mantra atau lagu-lagu pujian untuk menyenangkan dewa-dewa yang diyakini dapat mengabulkan permohonannya. Praktek ini masih berlangsung hingga sekarang. Pada saat praktek pemujaan sepeti ini terjadi, maka sifat-sifat yang super natural, kedewataan, kemuliaan, kesucian diberikan kepada objek-objek tersebut. Dengan demikian penyembah menerapkan objek-objek seperti mempunyai nilai yang super sebagai tempat memohon perlindungan dan anugrah. Jadi, Saraswati dipahami sebagai Dewi Saraswati. Dewi Saraswati diyakini mempunyai sifat-sifat kedewataan.
Air Sungai Saraswati
Gelombang arus aliran sungai Saraswati telah disebutkan berulang kali di dalam Rg-Weda (1.6.61.2). Di sini kita bisa melihat kedaan sungai ini pada tahapan pertamanya dicatat dengan tepat karena fenomena menggali dan mendalamnya aliran sungai diacu di sini. Lebih lanjut, uraian arusnya yang bergerak cepat, kencang pada alur-alur perbukitan. Arusnya tak terbatas (ananta), tak terpecah (ahruta), bergerak kencang (tvesa), mampu bergerak cepat secara mudah (carisnu), besar dan mengalir dengan suara yang meraung. Banjir sungai ini kadang-kadang juga bisa menyebabkan kepanikan. Hal ini tercermin dari pemujaan -" Dengan airmu bawalah kemakmuran kepada kami, jangan membuat kami menderita, dengan airmu (yaitu banjir) jangan sakiti kami. (Dihempas oleh banjirmu) anugrahilah kami, agar kami tidak pergi jauh dari bumi ini yang akan gersang tanpa kehadiran dirimu).
Air Saraswati adalah air kehidupan, bukan hanya karena ia menghancurkan musuh-musuh tetapi juga airnya menyuburkan. Oleh karena itu tidaklah sebuah hiperbola ketika dikatakan bahwa semua makanan berada di dalam Saraswati, artinya makanan sangat bergantung dari Saraswati (2.41.17). Saraswati adalah salah satu sungai yang kaya dalam makanan (Yasasah) dan yang memiliki banyak susu (su-dughah, yaitu air yang menyuburkan dan memberikan kehidupan) (7.36.6). Ungkapan di dalam Weda : vajinivati (2.41.18.). dan vajebhir vajinivati (1.3.10) berbicara tentang kekayaan makanan yang memberikan kekuatan dalam bentuk flora dan fauna di pingir-pinggirnya dan hasil panen sangat bergantung dari airnya. Daerah-daerah yang dilalui oleh aliran sungai ini senantiasa subur sehingga pemukiman cenderung berada di sepanjang sungai ini. Dengan demikian Saraswati menjadi lambang kesuburan, kemakmuran dan kehidupan. Betapa penting peranan air di dalam kehidupan.
Saraswati: Dewi Wilayah Angkasa
Kitab Nighantu (2.5) menyebutkan Saraswati sebagai salah satu dewi angkasa (aerial). Belakangan kitab Nirukta menyebutkan sebagai Madhyamika Vak. Namun sarjana belakangan dari itu menginterpretsikan sema rc dari Dewi Saraswati di dalam dua cara : (1) sebagai sebuah sungai dan (2) sebagai seorang dewi wilayah angkasa. Para sarjana belakangan itu nampaknya salah memahami pernyataan Yaksa 'nadviad dewatavac ca nigma, bhavanti' dan oleh karena itu secara salah dijelaskan bahkan rc yang paling sederhana yang berarti dewi sungai dinamakan sebagai dewi angkasa.
Di dalam upaya-upayanya yang begitu antusias untuk menjelaskan Saraswati baik sagai dewi angkasa di dalam semua rc (enam atau tujuh) atau sebagai semata-mata sungai, kita akan menemukan beberapa kesalahan yang mencolok dibuat oleh mereka, Contoh: rc yang berbunyi 'iyam susmebhir bisakha...' (6.61.2). Ini diinterpretasikan oleh sarjana dengan mengikuti Yaksa sebagai sumber rc yang berarti sungai Saraswati. Tetapi dengan mengamati "seluruh rc ini, Khususnya bagian awal, nampaknya menjadi jelas bahwa Saraswati di sini diperlukan sebagai seorang dewi sungai bukan sebagai sungai.
Para sarjana dengan mengikuti pendapat Nighantu (dan juga Nirukta) akan selalu menginterpretasikan Dewi Saraswati sebagai seorang dewi wilayah angkasa, jika Saraswati di sini diterima sebagai seorang dewi, walaupun kata-kata: 'tavisebhir urmibhih paravataghinim' secara pasti mengacu kepada karakter dewi tersebut. Ungkapan lain: 'ambitame naditame, dewitame' dan amba memastikan bahwa rc tersebut ditunjukan kepada Dewi Saraswati.
Kadang-kadang para sarjana keliru menafsirkan dan tidak bisa menentukan apakah sebuah rc berarti sungai atau dewi. Hal ini disebabkan oleh salah satu diantaranya kesulitan memahami mantra-mantra Weda yang mengadung makna yang sangat halus yang sulit ditangkap oleh kemampuan intelektul saja. Saunaka misalnya memahami rc 2.41.16 sebagai rc yang mengacu kepada sungai Saraswati pada suatu bagian, tetapi pada bagian lainnya ia memahami satu di antara tiga rc (Rg-Weda., 2.41.16; 17;18) mengacu kepada Saraswati, prauga dewata. Sayana mengatakan bahwa dua pada pertama sebuah Gayatri (yaitu 1.3.12) mengacu kepada Saraswati sang sungai dan yang ketiga mengacu kepada Saraswati, sang dewi. Dengan demikian adalah keliru memahami Saraswati sebagai sungai semata kepada mana doa-doa puja dialamatkan.
Jika mengkaji mantra-mantra Weda kita akan menemukan bahwa rc merupakan ungkapan pemujaan dan pengagungan kepada apakah objek berjiwa atau mati. rc tersebut harus diperlakukan sebagai sebuah ungkapan yang mengacu atau ditujunkan kepada seorang dewata karena pujan-pujan tersebut memberlakukan obje-objek tersebut sebagai seorang dewa. Atribut-atribut kedewataan secara khusus diberikan kepada objek tersebut dan diperlakukan sebagai kekuatan super natural.
Walaupun Yaska sendiri menoalak pemujaan yang berkarakter naturalisme didalam Nirukta : 1.15 namun kata-katanya: 'yatkama rsi yasyam dewatayam athapatyam icchastutim prayunkte tad-daivatah sa mantrp bhavati', (sebuah stanza khusus dikatakan termasuk kedalam seorang dewa, kepada siapa seorang rsi menghaturkan pemujaan dengan keinginan tertentu atau kepada siapa ia menginginkan untuk meraih tujuannya), ini berisi bahwa pemujaan atau doa-doanya dialamtkan kepda seorang dewa yang pada gilirannya menentukan kedewataan kepada siapa doa diperuntukkan, emujaan dan doa dialamatkan kepada seorang dewata dan bukan kepada suatu objek atau benda juga diperlihatkan didalam kata-kata Katyayana: 'ya tenocyate sa dewata', (apapun yang dijelaskan atau dipuja didalam suatu mantra disebut dewata).
Menurut Skandasvamin (dalam Airi, 1987) menyatakan bahwa Saraswati sering dikaitkan dua karakteristik. Ia mengatakan 'pavaka' berarti ia yang menyebabkan hujan turun; 'codayitr sunrtanam' berarti ia yang mnyebabkan ujaran angkasa, 'apaprusi' berarti ia yang penuh dengan hujannya atau suara guntur, 'hiranyavartini' berarti ia yang mempunyai halilintar sebagai jalannya, 'apasam apastama' berararti ia yang aktif diantara yang aktif karena dari aktifitas hujan dan yang lainnya, dan 'ma paspharih payasa mana a dhak' berarti hujan dia atas kemakmuran kita bukan kehancuran.
Uraian mengenai fungsi-fungsi dan atibut di atas dilakuan untuk menafsirkan Saraswati sebagai seorang dewi angkasa. Fungsi-fungsi dan atribut ini cocok sebagai alamiah dan tak terpengaruhi di dalan konteks dewi sungai Saraswati daripada dalam konteks Madhyamasthana; pavaka berarti menyucikan, sunrta berarti ujaran dipahami dalam kontras dengan anrta (kesalahan), yaitu ujaran yang benar'. Apaprusi berarti 'ia yang meresapi', didalam konteks ini ia yang meresapi wilayah-wilayah atmospir dan bumi.
'Hiranyavartini' berarti ia yang menapaki jalan emas. ia mengisyaratkan bahwa kata ini bukan untuk dihubungkan dengan partikel-partikel emas dari pegunungan menuju lembah; Saraswati dipercaya bahkan hingga sekarang pasirnya membawa emas. Oleh karena itu, Saraswati dikatakan sebagai Hiranyavartini. 'apasam apastama' (yang paling aktif di antara yang aktif) lebih berkarakteristik kepada seorang dewi sungai dari pada seorang dewi angkasa, mapasvarih payasa ma na a dhak -merupakan sebuah permintaan kepada dewi sungai bukan membanjiri pingir-pingir sungainya yang mengairi lahan penyembahnya, memnyebabkan pertanian subur dan panen berhasil.
Saraswati Dan Dewa-dewa Lain
Dewa-dewa Rg-Weda mempunyai karakter tersendiri jika dibandingkan dengan dewa-dewa disebutkan dalam kitab-kitab Purana. Banyak dewa disebutkan, dipuja, dipanggil melalui persembahan yajna agar memenuhi keinginan-keinginan penyembahnya. Para rsi adalah penyair-penyair yang hanyut di dalam pemujaan kepada kekuatan-kekuatan super natural yang tidak nampak oleh mata tetapi diyakini ada. Walaupun banyak dilakukan pemujaan pada dewa-dewa yang bersifat individu, tetapi tidak ada satu dewapun yang menempati tempat tertinggi atau teragung di antara begitu banyak dewa.
Kebanyakan pemujaan kepada suatu dewa dilakukan dalam asosiasinya dengan dewa lainnya, sehingga tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri. Asosiasi seperti itu sering dan berpariasi di dalam kasus Dewi Saraswati. Hubungannya dengan dewa lain menyenangkan, bersahabat dan membantu karena kita belum menemukan suatu bukti ia melakukan hubungan yang tidak baik dengan dewa-dewa lainnya. Referensi mengenai hubungannya dengan dewa-dewa lain cukup banyak.
Dewa-dewa dengan siapa Saraswati diasosiasikan sangat banyak, di dalam Sukta yang ditunjukkan kepada Visvedwa, nama Saraswati beberapa kali disebutkan bersama-sama dengan Indra, Marut, Agni, Pusan, Dhi, Kuramdhi, Aja ekapad, Sindhu, Aditya, Soma, Asvin, Bhaga, Pitr, Sarasvat, Parjanya, Varuna, Mitra, Aditi, Visvedewah, Dewah, Maruta, Genah, Rudra, Brhaddiva, Raka, Indrani, Vaunani, Gungu, Sinivaah, Vayu, Vata Vidhatr, Damunasah Prthivi, Parvatah, Vafiaspati, Saptasindhavah, Brhaspati, Tvastr, Savitr, Brahma-naspati,Aryaman dan visnu.
Dengan melihat hubungannya dengan dewa-dewa tersebut kita akan semakin mengenal karakter Saraswati seperti disebutkan di dalam Rg-Weda. Ia disebutkan atau dipuja untuk memenuhi keinginan penyembahnya seperti anugrah, kebahagiaan, makanan, prtoteksi, mendengar suara hatinya atau mendatangi dan menyaksikan persembahan yajna yang ia bangun.
Atribut
Atribut banyak membantu memahami karakter sorang dewa. Cukup banyak ada ungkapan di dalam Rg-Weda yang menggambarkan atribut-atribut Saraswati yang bisa dijadikan landasan untuk menentukan konsep Weda tentang seorang dewi. Berikut ini dibahas beberapa atribut atau sifat-sifat Saraswati dalam urutan Mandala, Sukata dan Mantra
1. Pavaka: ia yang mennyucikan (1.3.10).
2. Vejebhir vajinivati dan ajesu Vvajin: mempunyai kekuatan atas makanan, kaya dalam makananatau banyak kuda dan mempunyai kekuatan atau tentara di dalam pertempuran (1.3.10; 2,.41,18;6.61.3;4;7.96.3;6.61.6).
3. Dhiyavasu : kaya dalam pemujaan (1.3.10).
4. Codayitri-sunrtanam: penggerak ajaran yang benar (1.3.11).
5. Cetanti Sumatinam :yang memberikan inspirasi pikiran agung (1.3.11).
6. Subhaga : cantik, beruntung (1.89.3).
7. Sadhayanti dhiyam nah: menyem-purnakan dhi, stutikarma atau yajna-karma kita (2.3.8).
8. Marudvati ; kepemilkan marut, teman marut (2.30.8).
9. Dhrsati: berani, tahan sakit (2.30.8).
10. Ambitama : yang terbaik dari ibu (2.41.16).
11. Naditama : sungai terbaik (2.41.16).
12. Rtavari : memiliki air, pengamat hukum Tuhan (2.41.18;6.61.90.
13. Yajata: penting bagi korban suci atau pemujaan, penuh pemujaan.
14. Havamjujusana: mendengar doa-doa kita (5.43.11= 7.24.3).
15. Ghrtaci : air berlimpah, bersinar dengan susu kental, percikan susu kental atau air ( 5.43.11 =7.24.3).
Mengamati lebih jauh Sukta-sukta di dalam Rg-Weda maka dapat digambarkan beberapa aspek saraswati. Hal ini penting di dalam memahami pungsinya dihadapan para penyembahannya. (Selanjutnya)
Oleh: I BP. Suamba
Source: Warta Hindu Dharma NO. 525 September 2010