Pohon Shaka, Rambut Dewa Brahma

(Sebelumnya)

12. Pohon Shaka

Nama Latin : Tectona grandis

Nama Inggris : Teak Tree, Indian Oak

Nama India :

- Bengali : Segun
- Gujarati : Saga
- Hindi : Sagun, Saigun
- Marathi : Sagvan
- Sanskrit : Shaka
- Telugu : Teeku
- Tamil : Tekkumaram

Rumpun: Verbenaceae

Kata-kata Tectona dan Teak berasal dari bahasa Malayalam "Tekka" yang pertama kali menjadi bahasa Portugis yaitu Teca. Artinya tukang kayu. Grandis berarti besar. Kata dalam bahasa Sanskerta Shaka artinya cukup ingin tahu, tenaga, kekuatan, dan Sayuran.

Menurut Mitologi Hindu, ketika dunia terbagi menjadi Dwipa-Dwipa atau pulau-pulau dikelilingi oleh lautan susu, salah satu dari mereka bernama Shaka setelah pohon Shaka tumbuh disana.

Seorang Gadis yang Kekasihnya adalah Sebuah Pohon
(Legenda Suku Chongli dari Nagaland)

Pada suatu hari ada seorang laki-laki kaya yang mempunyai seorang putri yang cantik jelita. Banyak laki-laki yang ingin menikahinya namun ia menolak mereka semua. Gadis itu tinggal disebuah asrama bersama seluruh gadis-gadis yang sudah pantas menikah di desa itu. Hatinya telah ia berikan kepada seorang pemuda yang biasa mengunjunginya secara rahasia setiap malam di asrama tersebut dan pergi di saat fajar. Sepanjang hari, gadis itu mencari kekasihnya di desa tersebut namun ia tidak pernah menemukannya. Akhirnya ia memberitahukan orang tuanya tentang kekasihnya itu.

Ayahnya bertekad untuk mencari tahu siapa kekasih putrinya itu. Maka, di suatu malam,- ia bersembuyi di luar asrama dan berjaga-jaga. Pemuda itu diam-diam memasuki asrama. Pada waktu fajar menyingsing ia keluar. Ayah Sang Gadis mengikutinya. Daripada pulang ke asramanya sendiri atau gorung, pemuda itu menuju keluar jembatan desa dan ke arah mata air. Ketika ia menyentuh air, tiba-tiba terjadi perubahan wujud yang aneh. Kedua lengannya menjadi cabang-cabang, rambutnya berubah menjadi dadaunan dan anting-antingnya menjadi kuntum-kuntum bunganya. Segera sebagai pengganti dari seorang laki-laki di tempat itu, telah ada sebuah pohon yang tinggi.

Ayahnya memutuskan untuk menebang pohon ajaib itu agar putrinya dapat menikah dengan seorang manusia normal. Ketika hari telah benar-benar terang, ia memanggil seluru teman-teman dan keluarganya untuk menolong. Mereka memotong dan memotong namun pohon itu belum juga tumbang. Akhirnya pohon itu roboh dengan suara dentaman. Pada saat kematiannya, sebuah kepingan kayu terbangjauh. Serpihan kayu itu mencari gadis itu, menusuk melalui mata sampai ke otaknya.

Sang Ayah, yang kegirangan atas penghancuran pohon itu kembali ke pondoknya hanya untuk menemukan bahwa dua sejoli itu telah mati bersama.

Pangeran dan Kipas-Kipas dari Bulu Burung Merak

Pada suatu hari, hiduplah seorang saudagar kaya raya yang mempunyai tujuh orang putri. Ia sangat angkuh akan kekayaannya dan tidak pernah kehilangan kesempatan untuk memamerkannya. Suatu hari, karena kekurangan penonton, ia memanggil ke tujuh putrinya dan bertanya pada mereka, "Kekayaan milik siapa yang membuat kalian tetap hidup dan bahagia?" Keenam putrinya menjawab, "Milikmu, Ayah". Tetapi yang termuda menjawab, "Saya hidup dan bahagia karena keberuntunganku sendiri."

"Baiklah, kata ayahnya dengan geram, "Akan kulihat sampai dimana keberuntungan dapat membawamu, Nona." Ia memanggil para pengangkat tandunya dan mengirim putrinya yang bungsu ke hutan yang lebat. Ia hanya mengijinkan putrinya untuk membawa kotak peralatan menjahit miliknya, benang, dan seorang pengasuh tua yang telah bersamanya sejak ia dilahirkan.

Kedua wanita itu tertunduk memandang matahari terbenam di bawah pohon Shaka yang besar. Para pengangkat tandu memberi salam kepada mereka dan pergi.

Pohon Shaka raksasa itu melihat kebawah, kearah gadis kecil berumur empat belas tahun yang sedang menangis ketakutan. "Wahai gadis yang tidak bahagia", katanya. "Sebentar lagi binatang-binatang buas di hutan ini akan keluar dan memakanmu".

Tetapi ketika pohon itu berbicara, gadis itu terlihat sangat memilukan sehingga hatinya menjadi lunak. "Sudanlah, jangan menangis. Aku akan menolongmu. Aku akan membuka batangku sehingga kalian berdua dapat bersembunyi di dalamnya." Pohon Shaka itu membelah batangnya dan Sang Gadis beserta pengasuhnya naik ke lubang itu. Pohon itu kemudian menutup kembali ke bentuknya semula.

Binatang-binatang buas keluar pada malam hari. Berkeliling mencari mangsa di sekitar hutan, mereka mencium bau manusia. "Kami mengetahui bahwa Engkau menyembunyikan manusia didalam batangmu." Mereka meraung pada pohon Shaka itu. Kemudian mereka menyerang pohon itu, mencakar kulit kayunya hingga koyak, mematahkan cabang-cabangnya, dan menghamburkan daun-daunnya. Namun pohon itu tidak akan menyerahkan buronan-buronan tersebut, meskipun darah mengalir dari kulitnya yang tertusuk.

Ketika fajar merekah, binatang-binatang buas itu kembali ke sarangnya. Sang pohon yang kehabisan tenaga itu membuka batangnya dan kedua wanita itu keluar. Mereka melihat luka-luka menganga pada pohon itu. "Pohon yang baik" kata gadis itu dan memeluknya, Engkau telah memberikan kami perlindungan yang harganya sangat mahal. Kami sangat berterima kasih." Lalu ia pergi ke gunduk-gundukan di tepi sungai dan kembali dengan membawa segenggam lumpur yang dioleskannya pada luka-luka retak yang terbuka pada pohon Shaka itu.

Pohon itu merasa lebih baik. "Tetapi Engkau pasti merasa lapar", katanya pada gadis itu. Ia mengangguk. "Berikan kepada pengasuhmu semua uang yang Kau punya dan suruhlah ia membeli Khai (beras yang dipanggang). Gadis itu mengeluarkan beberapa buah jarum dan sejumlah benang emas dari kotak peralatan menjahitnya dan memberikannya kepada Si Pengasuh untuk dijual ke kota.

Si Pengasuh kembali dengan membawa sekantung kecil penuh Khai. "Makanlah hanya setengah dari ini, perintah Sang Pohon Shaka. "Tebarkan sisanya di tepi sungai." Para wanita itu mengerjakan sesuai dengan apa yang telah diberitahukan meskipun mereka tidak mengerti maksudnya, lalu mereka kembali memanjat kedalam batang pohon untuk tidur.

Sekawanan burung Merak selalu datang ke sungai itu pada malam hari. Ketika burung-burung itu melihat khai yang telah disebarkan di sungai itu, mereka menjadi gila, dengan kegirangan berebut dan saling dorong satu sama lain untuk mematuk tiap-tiap butir beras yang lezat itu di tanah. Dalam berdesakan ini, banyak bulu ekor mereka yang terlepas.
Ketika pagi menjelang dan kedua wanita itu telah keluar dari batangnya, pohon itu berkata kepada mereka, "Pergilah ke tepi sungai dan kumpulkan bulu-bulu burung Merak yang kalian lihat tergeletak disana. Rangkailah bulu-bulu itu menjadi sebuah kipas untuk Raja negeri ini."

Gadis itu menjahit bulu-bulu burung Merak menjadi satu dan pengasuhnya membawa kipas itu ke istana. Putra Raja melihat kipas itu, ia menyukainya dan segera membeli kipas itu. "Apakah Engkau yang membuatnya?" ia bertanya kepada pengasuh itu. "Tidak" jawabnya, "Nona kecilku sangat ahli dalam menjahit dan dia yang telah membuatnya."

Dengan uang yang telah diberikan oleh Sang Pangeran kepadanya, pengasuh itu membeli lebih banyak Khai dan lagi-lagi yang setengah untuk dimakan dan setengahnya lagi ditebarkan di tepi sungai. Setiap malam burung-burung Merak datang dan setiap pagi Si Gadis Cilik mempunyai cukup bulu-bulu untuk membuat kipas. Pengasuhnya membawa kipas itu ke istana, dimana mereka menjadi sangat terkenal dikalangan teman-teman Sang Pangeran, dan menjualnya kepada anggota kerajaan.

Setiap kali pengasuh itu bertemu Sang Pangeran, ia bertanya kepada pengasuh itu tentang nonanya. "Dapatkah ia datang untuk menjual kipas-kipas itu sendiri ?" tanyanya. "Oh tidak, Tuanku", jawab pengasuh itu terkejut, "Nona majikan saya anak orang kaya. Ia tidak pernah pergi ke pasar."

Dengan uang yang dihasilkan dari penjualan kipas-kipas itu, Si Gadis Kecil membuat sebuah pondok mungil didekat pohon Shaka tersebut. Ia tinggal disana bersama dengan pengasuhnya. Tetapi Sang Pangeran menjadi semakin penasaran tentang Si Penjahit Wanita yang trampil itu dan suatu hari ia mengikuti Si Pengasuh yang kembali dari kota dan melihat Gadis itu. Ia bertubuh langsing dan cantik. Pangeran memutuskan untuk menikahinya.

Sang Raja dan para anggota kerajaan pergi ke hutan karena Gadis itu menolak untuk menikah di tempat lain. Upacara pernikahan dilaksanakan dihadapan pohon Shaka yang telah dihias dengan kalungan-kalungan bunga untuk pesta tersebut. Pengantin wanita dan pengantin pria menuangkan susu pada akarnya. Saudagar dan putri-putrinya juga datang ke pesta pernikahan itu. Dan semua berterimakasih kepada pohon Shaka atas kebijaksanaan dan kasih sayangnya.

Pohon Shaka adalah pohon yang amat tinggi, berganti daun dan memiliki batang pohon yang berwarna abu-abu kecoklatan. Dahan-dahannya persegi empat dan berbulu. Daun-daunnya yang besar dan kasar berbentuk elips, bagian atasnya tidak berbunga tetapi bagian bawahnya diliputi dengan bulu-bulu merah yang lebat. Bunganya bermunculan dalam kuntum-kuntum berbentuk seperti piramida yang berwarna putih dan rapat pada ujung cabang-cabangnya. Buahnya bulat, kecoklatan dan seperti sepon.

Kayu pohon Shaka sangat bernilai karena anti rayap & semut, digunakan untuk bahan bangunan, kapal, gerobak dorong, furnitur, dan alat-alat musik. Pohon ini juga menghasilkan minyak tar yang digunakan untuk pernis. Dari kulit kayu dan bunganya kita memperoleh obat untuk penyakit bronchitis. Pohon Shaka yang terbesar dan tertua di Asia diperkirakan berumur lebih dari 600 tahun, terdapat di Cagar Alam Parambikulam di Kerala.(Selanjutnya)

Source: Terj. Diani Putri l Warta Hindu Dharma NO. 442 Desemebr 2003