Pohon Bilva, Rambut Dewa Brahma

(Sebelumnya)

11. Pohon BILVA

Nama Latin : Aegle marmelos

Nama Inggris : Wood Apple, Bengal Quince, Golden Apple

Nama India :

- Bengali : Bel
- Gujarati : Bili
- Hindi : Bael, Bilva, Sriphal
- Marathi : Bael
- Sanskrit : Shriphala, Bilva
- Telugu : Muredu
- Tamil: Vilvum

Rumpun : Rutaceae

Aegle adalah nama latin dari salah satu Hesperides, tiga saudari yang ditolong oleh seekor naga menjaga apel-apel emas milik Dewi Hera. Marmelos berasal dari bahasa Portugis "Marme-losde" yang artinya kelereng. Kata dalam bahasa Sanskerta Shriphala berarti buah suci.

Pohon Bilva disucikan untuk Dewa Siwa dan karena sebuah sesaji yang terbuat dari daun-daun tersebut adalah suatu ritual yang wajib, pohon ini selalu ditanam didekat kuil Dewa Siwa. Bilvadandin, Ia yang memiliki sebuah tongkat yang terbuat dari kayu Bilva, adalah nama lain dari Dewa Siwa.

Pada hari ke tujuh perayaan Dashehra, pada malam Pemujaan Agung, Raja-Raja Rajput menyelenggarakan "Undangan kepada Pohon Bael" yang dianggap sebagai upacara yang paling sakral dalam upacara Dashehra. Satu buah Bilva dipetik langsung dari pohonnya dan dipersembahkan kepada Sang Dewi Chamunda yang dahsyat untuk memohon perlindungannya.

Di Benggala, Dewi Durga dibangunkan dari tidurnya pada saat Durga Puja dengan menyentuh sebuah ranting dari pohon Bilva yang tumbuh pada arah timur laut. Sang Dewi dimohon untuk bangun dan memindahkan kediamannya dari pohon tersebut. Dalam ceritera rakyat Bihari dikenal pepatah-pepatah yang men mengisahkan tentang pohon tersebut.

Phir mundlo Hel tar (Si Kepala Botak takkan mengambil resiko untuk pergi ke bawah pohon Bael lagi). Buah bilva dikatakan menarik perhatian orang yang berkepala botak dan tidak akan pernah menolak sebuah kesempatan untuk menjatuhi salah satunya. Persamaannya dalam pepatah bahasa Inggris yaitu "once bitten tevice stiy".

Sebuah peribahasa mengungkapkan pengabaian berbunyi, "Bel pakal kaua ke baap la ka" (Perbedaan apa yang terjadi pada gagak apabila buah Bilva matang). Burung Gagak yang mematuk semua buah-buahan matang, tidak dapat menghancurkan kulit keras buah Bilva tersebut, sehingga burung Gagak tidak peduli ketika buah-buahan tersebut menjadi matang. Dikatakan bahwa keberadaan sebuah pohon Bilva dan sebuah pohon Beri bersama menunjukkan adanya sumber mata air dibawah tanah.

Menurut ceritera Tantri, Dewi Lakshmi turun ke Bumi dalam wujud seekor sapi. Dari kotoran hewan suci inilah tumbuh pohon Bilva tersebut. Dewi Lakshmi, yang dilukiskan dalam Bhuvaneshvari Tantra, memegang satu buah Bilva di tangan kirinya, suatu kesan yang menandakan bahwa beliau sebagai penghantar buah-buahan dari perbuatan seseorang.

Orang-orang berjalan mengelilingi pohon Bilva sebelum memulai sesuatu karena pohon tersebut dianggap memberikan keberhasilan dalam usaha-usaha yang baru berjalan. Vasuman, Raja Videhas diceritakan telah mendapatkan kerajaannya yang hilang dengan mengelilingi pohon Bilva yang terdapat di kuil Tiruvidaimarudur.

Pengorbanan Dewi Lakshmi
(Brihatdharma Purana)

Dewi Lakshmi adalah istri dari Dewa Wisnu. Dan karena setiap dewa memiliki wilayah dan kepentingannya sendiri, ia mengadakan upacara untuk memuja Dewa Siwa. Setiap hari Dewi lakshmi memerintahkan pelayan-pelayannya untuk memetik seribu bunga teratai dan Sang Dewi mempersembahkan bunga-bunga itu kepada Sang Pujaan yaitu Dewa Siwa pada malam harinya. Suatu hari, ketika sedang menghitung bunga-bunga yang akan dipersembahkan, ia menemukan bahwa bunga-bunga itu berkurang dua dari jumlah yang seharusnya yaitu seribu bunga. Sedangkan waktunya sudah terlambat untuk memetik bunga lagi karena malam telah tiba dan teratai-teratai telah menutup kelopaknya pada malam hari.

Dewi Lakshmi merasa tidak puas mempersembahkan bunga-bunga teratai yang jumlahnya kurang dari seribu tangkai. Tiba-tiba ia teringat bahwa Dewa Wisnu pernah mengumpamakan payudaranya seperti bunga-bunga teratai yang bermekaran. Ia memutuskan untuk mempersembahkan payudaranya sebagai pengganti dua teratai yang hilang itu.

Dewi Lakshmi memotong sebuah payudaranya dan menempatkannya bersama dengan bunga-bunga yang lain di altar. Sebelum ia dapat memotong sebuah lagi, Dewa Siwa, yang amat tersentuh oleh ketaatan Sang Dewi, menampakkan diri dihadapannya dan memerintahkannya untuk berhenti. Ia mengubah payudara Dewi Lakshmi yang terpotong menjadi buah suci Bilva yang bulat dan mengirimnya ke Bumi untuk menghiasi kuilnya.

Dua Sahabat
(Skanda Purana)

Pada awal penciptaan, Dewa Brahma, Sang Pencipta, membuat perlengkapan bagi manusia dan Bumi. Salah satunya adalah pohon Bilva. Seorang manusia duduk dibawah pohon itu dan mulai memuja Dewa Wisnu. Dewa Brahma menamainya Bilva. Karena merasa senang atas kesalehan dan ketaatannya, Dewa Indra, Raja Para Dewa memerintahkan Bilva untuk menjalankan roda pemerintahan di Bumi (Ini sebelum adanya Raja dan Ratu). "Saya akan menerima tanggung jawab itu," kata Bilva, "Hanya apabila Engkau memberikan senjata mustika milik-Mu sehingga aku dapat menghukum orang-orang yang berbuat kesalahan".

Dewa Indra mengatakan kepada Bilva bahwa senjata itu akan muncul ketika ia menginginkannya. Bilva membangun rumahnya dibawah pohon Bilva dan mengatur Bumi.

Kapila, seorang pemuja Siwa, mengunjungi rumah Bilva dan mereka-pun menjadi teman baik. Suatu hari keduanya berdebat tentang cara yang lebih baik untuk menebus dosa, apakah seperti yang dilakukan oleh pemuja Wisnu, atau melaksanakan tugas seseorang di dunia seperti yang dilakukan oleh pengikut Siwa. Kemarahan Bilva memuncak saat perdebatan dan memanggil senjata mustika milik Dewa Indra, ia memenggal kepala Kapila. Kapila telah menjadi mahluk abadi, namun Bilva tidak mengetahuinya. Perbuatan ini mengubah sifatnya. Ta berhenti menjalankan pemerintahan di Bumi. Dengan penyesalan yang dalam ia meninggalkan pohon Bilva dan pergi ke hutan Manakala dimana ia menjadi pemuja Siwa.

Berabad-abad kemudian Kapila lewat kearah dimana Bilva tinggal. Ia memberi kesempatan kepada Bilva yang menyambut temannya dengan rasa kagum serta penuh rasa hormat dan cinta. Keduanya menjadi sahabat karib kembali.

Mengapa Para Pendeta Hidup Miskin

Pohon Bilva dianggap sebagai kediaman Dewi Laksmi, Sang Dewi Keberuntungan dan istri Dewa Wisnu. Sesungguhnya, Bilvapatrika, Ia yang tinggal didalam daun-daun pada pohon Bilva, adalah nama lain bagi Dewi Lakshmi. Dewi Lakshmi memasuki kediaman mahluk fana dan didalamnya ia memberkati kemakmuran dan kebahagiaan. Tetapi Dewi Lakshmi dianggap tidak pernah memasuki rumah seorang pendeta. "Mengapa demikian?" tanya Dewa Wisnu kepada istrinya. "Para pendeta menjaga kuil-kuil. Mereka suci, saleh, dan menyembah kita semua. Mengapa Engkau sangat bersikeras untuk tidak memberkati mereka rejeki?"

Dewi Lakshmi menjawab dengan perasaan marah, "Semua pendeta adalah musuhku. Aku bahkan tidak dapat beristirahat dengan tenang di rumahku, Pohon Bilva, karena setiap hari mereka memetik daunnya dan mempersembahkannya kepada Shankara (Dewa Siwa). Jika mereka menghancurkan rumahku, mengapa aku harus memberkati mereka?". Dan Dewa Wisnu tidak punya jawaban atas pertanyaan ini.

Ibadat Si Pemburu
(Kathasaritsagara)

Pemburu ini tinggal di Vanarasi. Ia tidak beragama, buktinya, ia tidak pernah percaya untuk pergi ke kuil-kuil ataupun dalam menjalankan persembahyangan apapun untuk memuja para dewa. Suatu hari ia pergi berburu ke hutan. Ia mengejar seekor rusa sampai kedalam hutan namun tidak berhasil membunuh rusa itu. Ketika ia menghentikan pengejaran, hari telah malam, dan pemburu itu terlalu lelah untuk menemukan jalan pulang. Maka ia memanjat sebuah pohon Bilva dan mulai memetiki daun-daunnya untuk membuat dahan itu halus sehingga ia dapat beristirahat dengan nyaman.

Sebuah kuil Siwa yang kecil telah dibuat didasar batang pohon Bilva tersebut, dan karena Si Pemburu memetik daun-daunnya, beberapa daun itu jatuh di atas Siwalingga. Si Pemburu berkeringat karena kesibukannya dan setetes ke ringatnya jatuh diatas Siwalingga itu juga. Ia tidak makan apapun pada hari itu karena berburu sejak fajar menyingsing. Maka dapat dikatakan bahwa Si Pemburu telah berpuasa. Dan hari itu adalah hari keempatbelas pada saat bulan gelap di Bulan Phalguna (pertengahan Pebruari sampai pertengahan bulan Maret) hari suci bagi Dewa Siwa.

Tanpa disadari, Si Pemburu telah memenuhi persyaratan dalam upacara pemujaan Dewa Siwa. Hal ini sangat menyenangkan Sang Dewa sehingga ketika ia mati, kendatipun sebagai orang yang tidak percaya, jiwanya terangkat ke Surga.

Pohon Bilva adalah pohon yang berukuran sedang dan berganti daun. Pohon ini mempunyai kulit kayu yang kasar berwarna abu-abu dan cabang-cabangnya yang berwarna coklat muda, serta memiliki duri-duri yang lurus sepanjang satu inchi. Daunnya berhelai tiga dan berselang-seling. Tiap-tiap daun memiliki titik-titik yang tembus cahaya diatasnya. Helai-helai daunnya berben-tukbujur. Bunganya yang putih kehijau-hijauan berbau harum.
Buahnya besar dan bulat. Buahnya memiliki kulit yang keras dan berwarna abu-abu kehijau-hijauan. Daging buahnya yang berwarna orange mempunyai banyak biji yang diliputi dengan serat-serat.

Daging buah Bilva dapat dibuat menjadi serbat (semacam minuman). Juga digunakan sebagai obat disentri, dicampur limau untuk membuat perekat dan digunakan juga dalam pengecatan untuk mendapatkan penyelesaian yang mengkilap. Kayunya digunakan untuk bahan bangunan, gerobak, dan pegangan perkakas. Kulit buahnya yang belum matang menghasilkan warna kuning yang digunakan dalam pewarnaan kain blacu. Daunnya dapat dibuat salep untuk mata dan akarnya digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan demam. (Selanjutnya)

Source: Terj. Diani Putri l Warta Hindu Dharma NO. 441 Nopember 2003