Kelapa, Rambut Dewa Brahma

(Sebelumnya)

10. POHON KELAPA

Nama Latin : Cocos Nucifera

Nama Inggris : Coconut Palm

Nam India :

- Bengali : Dalo, Narkol
- Hindi : NariaL, Khopra
- Malayalam : Thenna, Tenga, Thengu
- Marathi : Naral
- Sanskrit : Narikela, Narikera, Suphala
- Telugu : Narikelamu, Tenkai
- Tamil : Tennaimaram

Rumpun : Arecaceae/Palmae

Cocos artinya wajah yang meringis dalam bahasa Portugis, sebagai buah yang dikatakan menyerupai sebuah kepala monyet dan tiga buah lubang pada batok kepala tersebut menjadikan rupanya seperti wajah yang meringis. Nucifera berarti berhubungan dengan kacang. Kata dalam bahasa Sanskerta Narikela berasal dari akar kata "Narik" yang berarti dengan air.

Pada Tahun Baru Hindu, diangpap menguntungkan bila melihat sebuah kelapa, maka salah satu dari matanya akan terbuka. Orang Benggala percaya bahwa buah kelapa mempunyai mata dan tidak akan pernah jatuh menimpa kepala seseorang yang lewat dibawah pohon itu. Di Gujarat, pohon Kelapa adalah keluarga Dewa. Masyarakat Muslim melemparkan kelapa yang terbelah dan limau melewati kepala sepasang pengantin untuk menakut-nakuti roh-roh jahat. Di India Barat, buah-buah kelapa dibuang ke laut pada saat mendekati musim hujan untuk memberi sesaji dan menenangkan air laut.

Karena buah Kelapa menyerupai kepala manusia, buah tersebut dipersembahkan kepada Dewi Bhadrakali sebagai pengganti korban manusia.

Bagaimana Kelapa Memperoleh Wajahnya
(Ceritera Rakyat dari Kerala)

Seorang pemuda dari Kerala, terlahir pada sebuah keluarga nelayan, namun ia tidak tahu bagaimana menangkap ikan. Ia telah mencoba semua cara, dengan kail dan jala, tetapi ia tidak dapat menangkap seekorpun. Hidupnya menjadi semakin miskin dan kelaparan. Seluruh warga desa mentertawa-kannya. Maka ia pun memutuskan untuk mempelajari beberapa ilmu gaib. Ia pergi kepada guru ilmu gaib dan belajar bagaimana melepaskan kepala dari tubuhnya.

Ketika pantai surut pada malam harinya, saat seluruh nelayan telah kembali ke perkampungan dengan hasil tangkapan mereka hari itu, Si Pemuda pergi ke pantai dan pada sebuah sudut yang terpencil, ia melepaskan kepala dari tubuhnya dan menyelam ke dalam air. Ikan tidak pernah melihat sesuatu yang aneh dalam pandangannya dan mereka selalu berkerumun kian kemari. Seluruh ikan kecil memasuki tubuh pemuda itu melalui lehernya. Pemuda itu kemudian berenang ke darat, mengeluarkan ikan-ikan itu, dan memasang kembali kepalanya. Lalu ia kembali ke desa dan menunjukkan kepada penduduk desa semua ikan yang telah ditangkapnya.

Si Pemuda tidak pernah mengatakan kepada siapapun tentang rahasianya. Para penduduk desa yang tidak pernah melihat adanya pancing maupun jala di pondok pemuda itu dan tidak juga pernah bertemu dengannya di pantai, menjadi sangat penasaran. Suatu hari seorang anak kecil mengikutinya ke pantai. Ia melihat pemuda itu melepas kepalanya dan menyelam ke dalam air. Anak laki-laki itu berlari cepat dengan tiba-tiba, mencuri kepala itu, dan kemudian melarikan diri. Setelah agak jauh ia merasa kepala itu terlalu berat dan membuangnya ke semak-semak.

Pemuda itu keluar dari air dan tidak menemukan kepalanya. Ia mencari kesana kemari dan karena ilmu gaibnya telah lenyap, ia membuang dirinya kembali ke laut dan menjadi seekor ikan. Anak laki-laki kecil itu mengajak seluruh penduduk desa untuk melihat kepala yang ajaib itu. Namun ketika mereka sampai di semak-semak yang terletak di pinggir pantai itu, mereka menemukannya sudah tumbuh menjadi sebuah pohon palem yang tinggi dan ramping dengan biji-biji kelapa diatasnya. Di tiap biji Kelapa terdapat wajah laki-laki itu. Sejak saat itu tercip-talah pohon Kelapa.

Bagaimana Pohon Kelapa Turun ke Bumi
Trishanku adalah seorang raja" yang termasyur dari Dinasti Matahari, Ia adalah seorang penguasa yang saleh, terkenal akan kesetiaannya kepada Dewa-Dewa. Trishanku hanya memiliki satu keinginan. Ia tidak ingin menunggu sampai dirinya mati dan jiwanya pergi ke surga. Ia ingin pergi kesana dengan tubuh fananya utuh.

Telah terjadi kelaparan di negerinya. Pendeta Vishvamitra dan keluarganya tinggal di sebuah hutan di kerajaan itu. Saat itu Sang Pendeta sedang pergi ke negeri lain dan keluarganya kelaparan. Trishanku menolong mereka dengan mengirimkan makanan. Ketika Vishvamitra kembali ke pertapaannya dan mendengar kebaikan Trishanku, ia berjanji untuk menolong Sang Raja dalam mencapai keinginannya. Ia mulai melaksanakan Yajna atau pengorbanan kepada Dewa-Dewa. Ketika api menyala dan orang-orang bersembahyang menjadi semakin khusyuk, Trishanku mulai terangkat dari tanah. Seketika ia berada jauh di atas Bumi, di atas awan-awan, dan telah dekat dengan jembatan Swargaloka dimana para Dewa tinggal.

Saat para Dewa melihat mahluk fana di jembatan itu, mereka cepat-cepat melapor kepada raja mereka. Dewa Indra. Dewa Indra sangat marah atas keberanian Trishanku, dan mendorong raja itu turun ke Bumi lagi. Trishanku jatuh dan berteriak ketakutan memanggil Vishvamitra. Pendeta itu menengadah melihat Sang Raja yang malang jatuh dari langit. Amarahnya tidak mengenal batas. Ia berteriak, "Biarkan Trishanku tinggal dimana ia berada".

Trishanku berhenti di tengah-tengah udara. Namun pendeta itu mengetahui bahwa Sang Raja hanya akan bisa bertahan di atas untuk sementara dan sebentar lagi kekuatan mantra itu akan hilang. Maka ia menahannya dengan sebuah galah yang panjang. Pada waktu itu galah tersebut berubah menjadi batang pohon kelapa dan kepala Trishanku menjadi buah Kelapanya.

Pohon Kelapa adalah sebuah pohon yang tinggi dengan batang yang lurus, tebal padat, dan melingkar seperti silinder dengan sebuah mahkota dari daun-daun yang besar seperti sayap. Daunnya panjang dan terbagi atas ratusan helai daun yang bentuknya Seperti pedang, tersusun pada sebuah cabang yang kuat. Tiap-tiap helai daun berwarna hijau mengkilat dan keras. Bunga-bunga yang berwarna orange kekuning-kuningan tumbuh pada pangkal cabang yang dimulai dari ujung daun-daun yang bergabung dengan batang pohonnya.

Buah Kelapa berukuran besar dan berlapis tiga. Buahnya memiliki sebuah pembungkus yang berwarna hijau tua yang menjadi coklat ketika matang. Di dalamnya, sebuah lapisan tebal dari serat menyelubungi sebuah cangkang yang keras. Lapisan ini berisi lapisan lembut dan tebal yang berwarna putih susu dan air manis.

Pohon Palem ini sangat banyak gunanya. Daunnya digunakan untuk atap rumah, batangnya untuk perahu kecil. Getahnya menghasilkan cairan yang disebut tuak, yang dapat dibuat menjadi alkohol dan juga gula. Sapu-sapu dibuat dari tulang-tulang daunnya (lidi). Serat dari kulit arinya disebut sabut dan digunakan untuk tali, keset, dan bahan pengisi. Batok kelapanya digunakan untuk bahan bakar dan juga untuk membuat gayung air. Batok tersebut juga dibakar dan dibuat cat hitam. Intinya atau kopra dapat dimakan mentah atau digunakan untuk kari, atau dapat juga dibuat minyak. Juga untuk bahan pembuat sabun dan margarine. Di India Selatan, Kelapa disebut "emas hijau". Selama Perang Dunia ke II, para prajurit yang memerlukan transfusi diberikan air dari sebutir kelapa, yang dianggap steril. (Selanjutnya)

Source: Terj. Diani Putri l Warta Hindu Dharma NO. 440 Oktober 2003